Sabtu, 28 Januari 2012

Sejenak Bercerminlah





terkaram akal disamudera ilmu
memang itu seharusnya
agar sombong tak mengunjuk unjuk
menepuk dada, lupa asal
lupa siapa

tak mungkin indera mencapai hikmah
bahkan yang kasat tak terjabar  sempurna
kian di tahu, kian berjuta bingungnya

maka bergurulah kepada runduk padi
pada kerikil dan batu yang meluncur  bumi
pada karang dan geliat ombak menepi
pada hijau daun berbalut embun pagi
agar tak percuma putih uban di kepala
tak juga sia kerut dimuka


                                                                Kramat' 6 Rabiul Awal  1433 H

Ketika Kubersujud





berikan aku segenggam cintamu
segenggam saja itu lebih dari cukup untuk aku mengenalMu
aku tidak bisa mengatakan aku mencintaiMu
bila
Engkau sendiri tidak lebih dahulu mencintaiku
karena aku bukan siapa-siapa
aku adalah debunya debu
aku tidak menjadi bintang hatiMu bila Engkau tak menyukaiku
tentu saja
sedangkan mereka yang tertatih menggapai cintaMu
tak urung berjuta juga yang jatuh dan tak bangun lagi
aku tahu dua jalan yang Engkau berikan
namun tanpa tunjukMu
bagaimana mungkin aku menemukan jejakMu
aku sendiri kini tak mampu lagi berdiri
lapar dan haus jiwaku dalam perjalanan ini
namun gurun tak juga ada batasnya
lautan tak nampak tepi pantainya
jangan tinggalkan aku di belantara ini duhai Tuan
hantarkan aku ke titik jalan keluar itu
yang berkedip di rimbunnya persoalan
yang sayup di kejauhan hati yang bimbang
risau gelisah jangan Engkau biarkan
membunuhku dari balik kegelapan
jerumuskan aku dalam perangkap kehinaan
bahkan namaMu saja lebih dari cukup yang kubutuhkan
satu huruf yang Engkau ucapkan
adalah kunci semua perbendaharaan


                        Karang Tengah 2010

Hati Yang Tercabik




mencintai bayangan
tak  tersentuh tak terpegang
tenggelam bersama redup petang
di ufuk malam yang bimbang
adakah sang bulan kan terbit awal
duhai sang aku yang malang

biarkan zaman bergulung bersama badai
dan angin menyapu jejak darah yang membekas
pada dinding kalbu yang merintih menjelang ajal

hidupku
biarkan berlalu

9 Muharam 1432H’ seharusnya berkah bagi kami

Ketika Cinta

kalimantang senja kemarau
kantata kawanan camar senandungkan kasidah kasmaran
bersahut kesiur angin berkecandan gelombang
cinta, oh, cinta…
kecupanmu menggeletar jiwa
mengerucut akal