Sabtu, 18 Februari 2012

Ikhlashlah Wahai Jiwaku

Ikhlashlah wahai jiwaku! Ikhlash hanya karena Allah saja. Ikhlaslah dalam ucapan dan perbuatan. Ikhlaslah dalam mencintai dan menyayangi! Ikhlashlah dalam segala hal tanpa terkecuali. Hanya dengan itu engkau akan bahagia dan damai. Tidak usah mengharap pamrih atas apa saja yang telah engkau lakukan. Lupakan saja dan jangan dihitung, diingat-ingat.
Engkau pasti akan sakit dan menjadi sia-sia bila tanpa keikhlashan, karena tidak semua orang bisa membalas jasa atau bahkan sekedar mengucapkan terimakasih, terlebih puja dan puji kepadamu atas apa saja yang telah engkau lakukan. Dihadapan Allah engkaupun tidak berarti apa-apa dan semua amal  perbuatanmu tidak lebih hanyalah fatamorgana di gurun yang tandus, yang disangka air ternyata adalah hamparan pasir dan debu belaka, engkau tertipu karenanya.
            Tidaklah susah untuk berlaku ikhlash bila engkau sadar dan percaya bahwa tidak ada yang sia-sia di atas dunia ini dan semuanya akan bermuara kepada Allah saja. Tidak ada yang terlepas dan gaib dalam pengetahuan-Nya dan Dia-lah sebaik-baik pemberi akibat atas segala sebab. Dan engkau juga harus ingat, bahwa sesungguhnya engkau tidak memiliki apa-apa, bahkan dirimu sendiri bukan engkau yang punya, yang membuat engkau punya hak untuk menuntut balas atas apa saja kebaikan dan pertolongan yang telah engkau lakukan. Semuanya terjadi hanyalah karena rahmat dan kehendak Allah semata dan hanya Dia yang memiliki sepenuhnya hak atas engkau dan segenap makhluk-Nya. Maka dari itu wahai jiwaku, tenanglah dan cukup sudah semua basa-basi dunia ini. Tidak ada keuntungan sedikitpun yang akan engkau peroleh walau seujung kuku darinya yang tak lebih dari senda gurau dan kesenangan sementara bila tanpa keikhlasan.
Ikhlash! Dengan itu aku mengingatkanmu. Aku tidak tahu lagi apa ada yang lebih baik dari itu bila engkau tidak memilikinya. Lihatlah banyak ibrah di sekelilingmu. Berapa banyak ketidak-ikhlasan membuat banyak jiwa  merana dan tertipu dalam kesia-siaan. Mereka tenggelam dalam kebinasaan yang disangka keberuntungan.  Sementara waktu mungkin mereka bisa tertawa karena mereka merasa bahwa pamrih yang mereka peroleh telah menjadikan mereka mulia dan bisa berbuat apa saja.  Tapi apalah artinya bila maut itu datang dan mereka melihat semua amal perbuatan mereka tidak lebih berat dari debu yang tiba-tiba lenyap di terpa angin? Berlindunglah kepada Allah dari ketidak ikhlasan yang akan membuat engkau merugi dan dirundung penyesalan sepanjang hidup bahkan setelah hidup lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar